Direktur NRI, Deni Yusup, mengungkapkan bahwa ketahanan energi menjadi faktor paling dominan dalam membentuk kepuasan publik dengan kontribusi sebesar 19,17 persen. Ia menilai capaian tersebut menegaskan bahwa stabilitas pasokan dan kebijakan energi nasional telah dirasakan langsung oleh masyarakat serta menjadi fondasi utama kepercayaan publik.
Selain itu, sejumlah faktor lain turut mendorong tingginya tingkat kepuasan, di antaranya Program Makan Bergizi Gratis (18,33 persen), kepemimpinan Presiden (17,92 persen), penegakan hukum (16,67 persen), ketahanan pangan (15,42 persen), serta sektor pendidikan dan sekolah rakyat (12,50 persen). Kombinasi kebijakan tersebut dinilai membentuk persepsi positif masyarakat terhadap kinerja pemerintah secara menyeluruh.
Namun demikian, survei ini juga mencatat sejumlah catatan kritis dari publik. Isu korupsi dan lemahnya penegakan hukum menjadi penyebab utama ketidakpuasan (13 persen), disusul regulasi yang dinilai belum maksimal (10 persen), koordinasi pemerintahan (9,50 persen), serta kebutuhan peningkatan kesejahteraan dan pembenahan sektor pendidikan yang masing-masing berada di angka 9 persen.
Survei ini dilaksanakan pada 13–22 April 2026 dengan metode multistage random sampling terhadap 1.200 responden yang tersebar di 38 provinsi dan 518 kabupaten/kota di Indonesia. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara tatap muka oleh surveyor terlatih, dengan tingkat kepercayaan 95 persen dan margin of error sebesar ±2,9 persen, serta komposisi responden seimbang antara laki-laki dan perempuan. (red-win)