Air Surut, Sungai Cisadane Jadi Favorit Warga Keranggan Tangsel
TANGERANG SELATAN || MTUNews.com – Musim kemarau mengubah wajah Sungai Cisadane di Kampung Keranggan, Kelurahan Keranggan, Kecamatan Setu, Kota Tangerang Selatan. Debit air yang menyusut memunculkan hamparan pasir dan bebatuan di tepian sungai yang kini dimanfaatkan warga sebagai tempat rekreasi gratis bersama keluarga.
Berdasarkan pantauan di lokasi pada Rabu (22/7/2026), suasana tepian Sungai Cisadane dipadati warga, terutama anak-anak yang memanfaatkan aliran sungai yang dangkal untuk berenang dan bermain. Sementara itu, para orang tua duduk di tepian sungai sambil mengawasi anak-anak mereka.
Sejumlah warga juga menggelar tikar dan membawa bekal dari rumah untuk disantap bersama. Suasana kekeluargaan terlihat dengan sajian sederhana seperti nasi liwet, sayur asem, ikan asin, sambal, hingga aneka gorengan.

Yani (39), warga Kampung Keranggan, mengatakan pemandangan seperti itu selalu terjadi setiap musim kemarau. Menurutnya, surutnya Sungai Cisadane menjadi momen yang dinantikan warga untuk berkumpul bersama keluarga dan tetangga.
“Setiap tahun kalau musim kemarau pasti ramai. Biasanya mulai Juni sampai Agustus seperti ini,” ujar Yani.
Hal senada disampaikan Minar (43). Ia mengaku datang bersama keluarga tanpa persiapan khusus. Warga hanya membawa makanan seadanya dari rumah untuk dinikmati bersama di tepian sungai.
“Enggak janjian bawa apa. Yang penting bisa makan bareng dan anak-anak senang bermain di sungai,” katanya.
Selain menjadi lokasi piknik, surutnya Sungai Cisadane juga dimanfaatkan anak-anak untuk berenang, sedangkan orang dewasa bercengkerama sambil menikmati suasana. Meski demikian, musim kemarau juga mulai berdampak pada kehidupan warga. Debit air sumur di permukiman sekitar mulai menurun sehingga sebagian warga memilih mencuci pakaian di sungai.
Meski menjadi tempat rekreasi, warga tetap berupaya menjaga kebersihan kawasan. Sampah sisa makanan dikumpulkan dan dibawa pulang agar tidak mencemari aliran Sungai Cisadane.
Menjelang sore, jumlah pengunjung biasanya semakin ramai. Bagi warga Kampung Keranggan, surutnya Sungai Cisadane bukan hanya menjadi penanda datangnya musim kemarau, tetapi juga menghadirkan kembali tradisi berkumpul bersama keluarga yang telah berlangsung turun-temurun. (red-win)











