Sekolah Swasta di Tangsel Digerebek Massa, Pagar Dirobohkan
Daftar isi:
TANGERANG SELATAN || MTUNews.com – Sekolah swasta di kawasan Pamulang, Tangerang Selatan, kembali digeruduk massa pada Sabtu (22/8/2026) sore. Aksi tersebut merupakan kali kedua dalam beberapa bulan terakhir dan diduga berkaitan dengan sengketa internal.
Puluhan orang mendatangi gerbang sekolah setelah sebelumnya berkumpul di sebuah pusat perbelanjaan yang berada di seberang lokasi. Mereka kemudian mendorong gerbang sekolah yang dilengkapi gulungan kawat berduri hingga roboh.
Situasi sempat memanas setelah kelompok massa yang datang terlibat perseteruan dengan pihak lain yang berada di halaman sekolah. Polisi bersama personel Brimob kemudian datang untuk mengamankan lokasi.

Kapolres Tangerang Selatan AKBP Boy Jumalolo turut memediasi kedua pihak. Setelah dilakukan pembicaraan, mereka sepakat menyelesaikan persoalan secara damai dan masing-masing pihak diantar pulang oleh petugas.
“Sudah selesai itu. Sebetulnya itu sengketa mereka, mau diselesaikan secara internal,” kata Boy saat dihubungi, Minggu (23/8/2026).
Kasi Humas Polres Tangerang Selatan Ipda Yudhi Susanto mengatakan, polisi hanya memfasilitasi proses perdamaian karena belum ada laporan polisi terkait kejadian tersebut.
“Sudah damai. Kesepakatannya ada di dua belah pihak, karena belum ada LP,” ujar Yudhi.

Meski persoalan dinyatakan selesai, sejumlah personel kepolisian masih berjaga di sekitar sekolah. Beberapa sepeda motor patroli ditempatkan di halaman sekolah, sementara satu mobil Polsek Pamulang disiagakan di depan pagar.
Kondisi sekolah kini kembali normal. Gerbang yang sebelumnya roboh telah berdiri kembali dan akses keluar-masuk sekolah sudah dapat digunakan seperti biasa.
Terjadi Dua Kali
Pedagang di sekitar lokasi, Regi, mengatakan penggerudukan tersebut bukan yang pertama. Sekitar dua hingga tiga bulan sebelumnya, ia juga menyaksikan aksi serupa.
Menurut Regi, kejadian pertama berlangsung saat masih terdapat sejumlah siswa di dalam sekolah. Kondisi tersebut sempat membuat situasi menjadi kacau dan dikhawatirkan menimbulkan trauma bagi para siswa.

“Kacau yang pertama mah, posisi anak-anak tuh belum pulang semua. Jadi takutnya kan anak-anak trauma,” kata Regi.
Meski demikian, pihak sekolah dan massa saat itu sempat membuka akses bagi para siswa untuk meninggalkan sekolah bersama kendaraan penjemput. Massa kemudian membubarkan diri pada sore hari.
Pada penggerudukan kedua, massa disebut bertahan lebih lama. Kepadatan massa di Jalan Pamulang Raya juga berdampak pada aktivitas pedagang sekitar. Regi dan sejumlah pedagang lainnya bahkan diminta meninggalkan lokasi demi alasan keamanan.
Regi berharap persoalan tersebut benar-benar dapat diselesaikan sehingga kejadian serupa tidak kembali terjadi dan aktivitas masyarakat di sekitar sekolah tidak terganggu. (red-ms)













