AirAsia Terlilit Utang Rp79,7 Triliun
TANGERANG SELATAN || MTUNews.com – AirAsia yang pernah dibeli secara simbolis hanya seharga 1 ringgit atau sekitar Rp4.348 dalam kurs saat ini, pernah menjelma menjadi salah satu ikon maskapai penerbangan murah terbesar di Asia. Namun, lebih dari dua dekade setelah transformasinya, maskapai tersebut kini menghadapi tekanan finansial yang cukup berat.
Mengutip Channel News Asia (CNA), Kamis (17/9/2026), pemerintah Malaysia disebut telah meminta Malaysia Airlines dan Batik Air bersiap menghadapi kemungkinan pengalihan rute domestik dan penumpang AirAsia apabila kondisi maskapai terus memburuk. Namun, pembicaraan tersebut belum berarti adanya keputusan untuk mengambil alih operasional AirAsia.
AirAsia didirikan pada 1993 dan mulai beroperasi pada 1996 sebagai maskapai konvensional. Kala itu, perusahaan mengalami kerugian dan memiliki utang sekitar 40 juta ringgit atau setara Rp173,2 miliar.

Pada September 2001, Tune Air milik Tony Fernandes dan Kamarudin Meranun mengakuisisi AirAsia dengan harga simbolis 1 ringgit, sekaligus mengambil alih kewajibannya. Setelah itu, AirAsia mengubah model bisnisnya menjadi maskapai berbiaya rendah atau low-cost carrier (LCC).
Pada 2002, AirAsia diluncurkan kembali dengan konsep tarif murah, tingkat utilisasi pesawat yang tinggi, serta penjualan tiket secara daring. Ekspansi kemudian dilakukan ke berbagai negara di Asia Tenggara, termasuk Thailand, Indonesia, dan Filipina. Pada 2004, AirAsia tercatat di Bursa Malaysia.
Pertumbuhan AirAsia berlangsung pesat. Pada 2008, maskapai tersebut telah mengangkut sekitar 50 juta penumpang dan mulai melayani salah satu rute tersibuk di Asia Tenggara, Kuala Lumpur-Singapura. Setahun kemudian, AirAsia dinobatkan sebagai maskapai berbiaya rendah terbaik dunia oleh Skytrax.
Jumlah penumpang terus bertambah hingga mencapai 100 juta penumpang pada 2010. Namun, ekspansi jarak jauh melalui AirAsia X menghadapi kendala. Rute ke London dan Paris akhirnya dihentikan pada 2012 di tengah tingginya harga bahan bakar.

Pada Desember 2014, AirAsia kembali menghadapi tragedi besar ketika pesawat Indonesia AirAsia QZ8501 rute Surabaya-Singapura jatuh di Laut Jawa. Sebanyak 162 orang di dalam pesawat tersebut meninggal dunia.
Tekanan keuangan semakin terasa menjelang pandemi. Pada 2018, kenaikan harga bahan bakar pesawat meningkatkan beban operasional AirAsia. Tagihan bahan bakar tercatat mencapai sekitar 703 juta ringgit atau Rp3,04 triliun. Pada 2019, grup AirAsia membukukan rugi bersih sekitar 283 juta ringgit atau Rp1,22 triliun.
Pandemi Covid-19 kemudian menjadi pukulan berat. Pada 2020, AirAsia hanya mengoperasikan sekitar 29 persen kapasitas. Pendapatan turun 74 persen menjadi 3,1 miliar ringgit atau sekitar Rp13,43 triliun, sementara rugi bersih melonjak hingga 5,9 miliar ringgit atau sekitar Rp25,56 triliun.
AirAsia X kemudian masuk status kesulitan keuangan PN17 pada Oktober 2021, disusul Capital A pada Januari 2022. Restrukturisasi utang besar diselesaikan pada Maret 2022, tetapi pemulihan bisnis kembali dibayangi kenaikan harga bahan bakar.

Memasuki 2026, struktur bisnis AirAsia mengalami konsolidasi. Pada Januari 2026, AirAsia X menyelesaikan transaksi pengambilalihan bisnis penerbangan AirAsia Berhad sekaligus menanggung utang sekitar 3,8 miliar ringgit atau Rp16,46 triliun dari Capital A.
Tidak lama kemudian, tekanan kembali meningkat akibat lonjakan harga avtur yang dipicu konflik di Timur Tengah. Pada akhir Maret 2026, harga avtur disebut menembus 200 dollar AS per barel. AirAsia menyatakan biaya bahan bakar untuk operasional Malaysia meningkat sekitar 200 juta ringgit hanya dalam satu bulan.
Untuk menjaga likuiditas, AirAsia juga mulai mencari pembiayaan kembali atas utang berbunga tinggi senilai sekitar 600 juta dollar AS atau Rp10,64 triliun.
Berbagai langkah efisiensi kemudian dilakukan. Pada April-Mei 2026, grup AirAsia menangguhkan 21 rute dan memangkas kapasitas penerbangan sekitar 10 persen. AirAsia Thailand memangkas kapasitas hingga 30 persen, sementara AirAsia Indonesia menghentikan sejumlah rute internasional, termasuk Melbourne-Bali dan Adelaide-Bali.

Pada Juli 2026, layanan langsung Singapura-Jakarta dan Singapura-Bali juga dihentikan. Tekanan finansial kembali terlihat dalam laporan kuartal II 2026.
Grup AirAsia membukukan rugi bersih 830,5 juta ringgit atau sekitar Rp3,59 triliun, termasuk kerugian kurs sebesar 331 juta ringgit. Pada periode tersebut, harga avtur rata-rata mencapai sekitar 183 dollar AS per barel.
Per 30 Juni 2026, kewajiban lancar AirAsia tercatat sekitar 18,4 miliar ringgit atau Rp79,7 triliun, sementara kas yang tersedia sekitar 954 juta ringgit atau Rp4,13 triliun. AirAsia juga disebut memiliki kewajiban sedikitnya 500 juta ringgit atau Rp2,16 triliun kepada Malaysia Airports.
Untuk memperkuat kondisi keuangan, pada September 2026 AirAsia disebut tengah mengupayakan pendanaan hingga 1 miliar dollar AS dari pasar utang internasional serta fasilitas kredit lokal sebesar 700 juta ringgit. Namun, sumber yang dikutip laporan tersebut menyebut AirAsia membutuhkan sedikitnya 3 miliar dollar AS atau sekitar Rp53,2 triliun dalam bentuk modal segar.

Perjalanan AirAsia dari maskapai yang nyaris bangkrut, kemudian menjadi salah satu pelopor penerbangan murah di Asia, kini memasuki fase penuh tantangan. Beban kewajiban, kebutuhan pendanaan, harga bahan bakar, serta tekanan operasional menjadi sejumlah faktor yang akan menentukan langkah AirAsia berikutnya. (red-sjs)
#AirAsia #AirAsiaX #UtangAirAsia #MaskapaiMurah #Penerbangan #IndustriPenerbangan #Ekonomi #Bisnis #Malaysia #TonyFernandes #CapitalA #KrisisKeuangan #MaskapaiAsia #BeritaEkonomi














