Poin-Poin Penting dari Pidato Pelantikan Donald Trump
Daftar isi:
TANGERANG SELATAN || MTUNews.com – Donald Trump resmi dilantik sebagai Presiden Amerika Serikat untuk periode kedua pada Senin di Capitol Rotunda, Washington DC. Berbeda dengan pelantikannya sebelumnya, kali ini upacara dilakukan di dalam ruangan akibat cuaca ekstrem berupa salju lebat dan suhu dingin yang mencapai -6°C di Washington DC.
Trump mengumumkan pemindahan lokasi pelantikan ke Rotunda Gedung Capitol melalui media sosial pada Jumat lalu. Langkah ini mengingatkan pada inaugurasi Ronald Reagan pada 1985, yang juga dipindahkan ke lokasi yang sama karena cuaca dingin.
Dalam acara tersebut, Trump didampingi keluarganya, termasuk Melania, Ivanka, Barron, dan Donald Jr. Turut hadir mantan presiden dan wakil presiden AS, seperti Joe dan Jill Biden, Barack Obama, George W. Bush, serta Bill dan Hillary Clinton. Namun, Michelle Obama dan Karen Pence, istri mantan Wakil Presiden Mike Pence, tidak hadir pada acara ini.

Acara ini juga dihadiri para pemimpin besar dunia bisnis Amerika, termasuk Elon Musk, yang menyumbangkan 300 juta dolar AS untuk kampanye Trump, Mark Zuckerberg, Jeff Bezos, Tim Cook, dan Sundar Pichai. Untuk pertama kalinya sejak 2020, para pemimpin raksasa teknologi ini berkumpul kembali di satu ruangan.
Meski inaugurasi presiden AS biasanya tidak dihadiri pemimpin negara lain, Trump mengundang Presiden Argentina Javier Milei dan Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni. Inggris diwakili oleh Duta Besar Dame Karen Pierce, sementara Boris Johnson, mantan Perdana Menteri Inggris, juga hadir sebagai pendukung lama Trump.
Tamu-tamu lain termasuk taipan media Rupert Murdoch, Presiden FIFA Gianni Infantino, serta selebriti seperti influencer YouTube Jake dan Logan Paul.
Pidato Pelantikan
Setelah mengucapkan sumpah jabatannya, Trump menyampaikan pidato pelantikan yang menyatakan bahwa “zaman keemasan Amerika dimulai sekarang.” Ia mengkritik pemerintahan sebelumnya dan berjanji untuk mengakhiri politisasi Departemen Kehakiman. Trump juga menegaskan prioritasnya untuk menciptakan “negara yang bangga, makmur, dan bebas.”

Dalam isu imigrasi, Trump mengkritik kebijakan pemerintah sebelumnya yang dianggap melindungi imigran ilegal yang berbahaya. Ia menyatakan akan mengatasi krisis di perbatasan selatan dengan mendeklarasikan darurat nasional, mengirim lebih banyak pasukan, dan menetapkan kartel sebagai “organisasi teroris asing.”
Trump juga berjanji untuk menurunkan inflasi dan meningkatkan produksi minyak dan gas dalam negeri. Ia menyatakan, “Drill, baby, drill,” yang disambut tepuk tangan meriah di Rotunda.
Janji Kebijakan Lain
Trump menegaskan bahwa hanya ada “dua gender – laki-laki dan perempuan” di AS dan akan mengeluarkan perintah eksekutif untuk menghapus perlindungan bagi kelompok transgender. Ia juga berjanji menghentikan program keragaman, kesetaraan, dan inklusi di pemerintahan federal.
Untuk kebijakan luar negeri, Trump menjanjikan tarif impor baru dan pengendalian kembali Terusan Panama. Ia juga mengusulkan untuk mengganti nama Teluk Meksiko menjadi “Teluk Amerika” dan memperluas wilayah AS, termasuk mencanangkan misi untuk “menanam bendera AS di Mars.”

Namun, pidato Trump mengabaikan isu penting seperti konflik di Ukraina, hubungan dengan NATO, Rusia, dan Tiongkok.
Era Baru Amerika
Pidato Trump tahun 2025 ini menggemakan retorika “American Carnage” dari pelantikannya di tahun 2017, dengan fokus pada menghentikan “kemunduran Amerika” dan menempatkan “America First.” Namun, apakah kebijakan radikalnya seperti deportasi massal atau perubahan amendemen ke-14 dapat dilaksanakan masih menjadi tanda tanya besar.
Bagi para pendukungnya, pelantikan ini menandai dimulainya “zaman keemasan” yang mereka impikan. Namun, waktu yang akan menentukan sejauh mana janji-janji tersebut dapat diwujudkan di tengah realitas politik dan hukum Amerika yang kompleks. (red-win)













