MTU News
Beranda Internasional Kenapa Reza Pahlavi Pilih Israel?

Kenapa Reza Pahlavi Pilih Israel?

Foto: Reza Pahlavi, aktivis, advokat, dan putra tertua Shah terakhir Iran (Putra Mahkota Iran) (foto Istimewa)

TEHERAN || MTUNews.com – Putra mahkota Iran di pengasingan, Reza Pahlavi, kembali menjadi sorotan dunia setelah menyuarakan dukungan tidak langsung terhadap serangan Israel ke Iran dan menyerukan penggulingan pemerintahan Ayatollah Ali Khamenei. Dalam sejumlah pernyataannya, Pahlavi menolak mengecam aksi militer Israel dan menyebut bahwa akar konflik justru terletak pada kepemimpinan represif Iran.

“Diplomasi nuklir dengan Iran hanya membuang waktu,” tegas Pahlavi dalam sebuah forum di Paris, Juni 2024. Ia menyerukan pendekatan garis keras terhadap Teheran dan meminta dukungan internasional bagi “alternatif terhadap rezim yang menindas.” Dalam kesempatan yang sama, ia juga menyatakan bahwa hanya Iran yang demokratis yang mampu mengakhiri ancaman nuklir, sejalan dengan kepentingan Israel dan negara-negara Barat.

Sikap vokal Pahlavi yang sejalan dengan narasi geopolitik Israel memicu perdebatan luas. Banyak pihak memandang pernyataannya sebagai bentuk dukungan terhadap strategi militer Israel dalam melemahkan kekuasaan ulama di Iran. Dalam konflik Gaza pun, Pahlavi konsisten tidak menyalahkan Israel, melainkan justru mengecam kelompok Hamas yang menurutnya memperkeruh situasi.

Dukungan Pahlavi terhadap Israel semakin kentara sejak kunjungannya ke Tel Aviv pada April 2023. Ia dan istrinya, Yasmine Pahlavi, disambut resmi oleh Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan Presiden Isaac Herzog. Kunjungan itu mencakup doa di Tembok Ratapan dan penghindaran simbolik terhadap Masjid Al-Aqsa—yang ditafsirkan sebagai keberpihakan terhadap posisi politik Israel atas Yerusalem.

Selama kunjungan tersebut, Yasmine Pahlavi juga mengunggah foto tentara perempuan Israel disertai slogan “Women, Life, Freedom”—sebuah semboyan protes populer di Iran. Tindakan itu memicu kritik keras dari aktivis hak asasi Iran, yang menilai slogan tersebut telah dipolitisasi untuk membenarkan pendudukan Israel atas Palestina.

Dukungan kuat Pahlavi terhadap Israel tidak lepas dari jaringan dan penasihat yang berada di sekitarnya. Ia dikenal dekat dengan sejumlah tokoh garis keras anti-Iran di Washington, termasuk Saeed Ghasseminejad dan Amir Etemadi, yang pernah secara terbuka mencuitkan slogan “Death to Palestine.” Kedekatan ini memperkuat persepsi bahwa Pahlavi berpihak pada agenda asing.

Di dalam negeri Iran, posisi Pahlavi masih jauh dari konsensus. Kendati ia mengklaim mendukung demokrasi, banyak oposisi menilai langkahnya sebagai upaya restorasi monarki yang sudah ditolak rakyat sejak revolusi 1979. Saat gelombang protes Mahsa Amini mengguncang negeri itu pada 2022, slogan-slogan seperti “Matilah penindas, baik Shah maupun Pemimpin (Khamenei)!” menunjukkan bahwa rakyat tidak menginginkan kembalinya kekuasaan dinasti.

Analis dari Responsible Statecraft menilai bahwa dukungan Pahlavi terhadap Israel merupakan bagian dari strategi besar yang bertujuan menumbangkan rezim Iran melalui tekanan internasional. Namun mereka juga memperingatkan bahwa hal ini justru bisa merusak legitimasi gerakan oposisi domestik. “Dukungan Israel terhadap Pahlavi lebih bersifat simbolik dan strategis, namun tidak mencerminkan aspirasi mayoritas rakyat Iran,” tulis laporan lembaga tersebut.

Meskipun begitu, Reza Pahlavi tetap menempatkan dirinya sebagai tokoh alternatif dalam peta politik Iran. Di tengah konflik kawasan yang semakin memanas, keberpihakannya pada Israel dan penolakan terhadap kepemimpinan Khamenei membuatnya menjadi sosok kontroversial—dipuji oleh sebagian, namun ditolak oleh banyak pihak lainnya, termasuk dari kalangan oposisi yang mendambakan perubahan tanpa intervensi asing.  (red-Malwin)

Komentar
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan