Menkes Tunjuk RSCM Jadi Pengampu RS Daerah untuk Tangani Diabetes
MTUNews – Semakin banyaknya pasien diabetes di tanah air membuat semua pihak akhirnya sadar akan bahayanya penyakit ini. Pada tahun 2019, Indonesia masuk dalam 10 besar dunia sebagai negara dengan penderita diabetes tertinggi, dimana RI berada di posisi ke-7 dengan penderita 10,7 juta orang.
Bahkan menurut data yang dihimpun baru-baru ini lonjakan kasus penyakit Diabetes Melletus (DM) pada anak-anak mencapai 70 kali lipat lebih tinggi dibanding tahun 2010.
Pemerintah dalam hal ini Kementerian Kesehatan dan lembaga pemerintah lainnya tentu tidak tinggal diam, dan berusaha untuk meminimalisir serta menangani masalah serius tersebut.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menugasi Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta menjadi pengampu rumah sakit-rumah sakit di daerah untuk menangani pasien dengan penyakit diabetes.
“RSCM mendapat tugas sebagai pengampuan nasional untuk diabetes karena diabetes adalah mother of all diseases (ibu dari segala macam penyakit). Jadi, kalau sudah kena diabetes itu bisa berpengaruh ke penyakit lain seperti ginjal, penyakit jantung, dan stroke,” kata Menkes Budi dalam keterangan resmi di Jakarta, Sabtu (15/7).
Menkes menuturkan bahwa untuk bisa menjadi pengampu (pensupport) bagi rumah sakit lainnya, RSCM sebagai salah satu rumah sakit vertikal yang berada di bawah naungan Kementerian Kesehatan (Kemenkes), menjalin kerja sama dengan Joslin Diabetes Center Amerika untuk meningkatkan kapasitas sebagai RS pengampu layanan diabetes sejak tahun 2022 lalu.
“Tugas RSCM adalah memastikan bisa menyusun jaringan layanan mulai dari yang paling bawah di level puskesmas sampai ke paling tinggi di level rumah sakit. Targetnya hanya satu yaitu mengurangi kematian masyarakat Indonesia dari diabetes,” kata Menkes.

Plt. Direktur Utama RSCM Lies Dina Liastuti mengatakan RSCM saat ini diminta untuk bisa melayani diabetes pada pasien-pasien secara terintegratif. Kerja sama tersebut dinilai dapat meningkatkan kapasitas sumber daya manusia di RSCM agar mampu mengampu rumah sakit lain di daerah untuk pelayanan diabetes.
“Kalau kami sudah mampu selevel dengan mereka baru kami akan mengajar rumah sakit-rumah sakit lain. Joslin Diabetes Center akan mengunjungi Klinik Diabetes Center di RSCM, mereka akan melihat apakah ada gap dalam pembuatan alur pelayanan, kemudian kekurangan peralatan yang kami miliki, dan sebagainya. selanjutnya mereka akan berikan rekomendasi apa yang harus kami perbaiki,” katanya.
Interim Chief Medical Officer and Senior Vice President Joslin Diabetes Center, Sanjeev Mehta mengatakan hampir enam bulan pihaknya telah melakukan diskusi untuk memahami manajemen dan perawatan diabetes di Indonesia, terutama melalui sudut pandang RSCM.
“Melalui fase penilaian nantinya bertujuan untuk memahami klinis operasional terkait dengan manajemen diabetes di seluruh Indonesia, terutama terkait dengan perawatan yang diberikan oleh RSCM, proses penilaian sendiri akan berlangsung hingga bulan September,” katanya.

Setelah penilaian ini selesai, Joslin akan memberikan rekomendasi praktik terbaik untuk memberikan terapi lanjutan untuk diabetes. Setelah fase penilaian ini dan penyampaian rekomendasi yang komprehensif, Indonesia akan ditawari kesempatan untuk berpartisipasi dalam fase dua, yakni implementasi.
“Jadi, saat ini kita sedang memulai fase satu, yaitu penilaian mendalam untuk benar-benar memahami manajemen perawatan diabetes di Indonesia, dengan asumsi bahwa apa yang kami lakukan (perawatan diabetes) di Boston masuk akal untuk diimplementasikan di Indonesia,” ucap Mehta.
Diabetes adalah penyakit menahun (kronis) berupa gangguan metabolik yang ditandai dengan kadar gula darah yang melebihi batas normal. Pola makan dan gaya hidup tidak sehat menjadi pemicu kuat dari penyakit ini. dimana saat tubuh mendapatkan asupan gula, aktivitas fisik kita sangat terbatas. Kondisi inilah yang dapat menyebabkan penumpukan gula darah. Dalam jangka panjang, penumpukan gula darah dalam tubuh akan meningkatkan risiko diabetes. (*Antara/GHP)













