MTUNews.com || 4 Januari 2026 – Penggulingan Presiden Venezuela Nicolás Maduro dalam operasi militer Amerika Serikat pada Sabtu (3/1/2026) disambut euforia oleh diaspora Venezuela di berbagai negara. Perayaan pecah di sejumlah kota di Amerika Latin dan Eropa, termasuk di Chili, Peru, Spanyol, dan Argentina, dengan warga turun ke jalan sambil membawa bendera nasional dan meneriakkan kebebasan.
Dikutip dari Reuters, Minggu (4/1/2026), Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) PBB mencatat sekitar 7,7 juta warga Venezuela meninggalkan negaranya sejak 2014 akibat krisis ekonomi berkepanjangan. Kolombia menjadi tujuan utama dengan sekitar 2,8 juta migran, disusul Peru dan Chile dengan total lebih dari 1,7 juta warga Venezuela.
Di Santiago, Chile, diaspora menyebut tumbangnya Maduro sebagai “hari kebebasan” setelah bertahun-tahun hidup di pengasingan. Perayaan serupa terjadi di Lima dan Buenos Aires, sementara di Madrid ribuan orang berkumpul di Puerta del Sol menyaksikan pernyataan Presiden AS Donald Trump secara langsung.
Meski demikian, di balik kegembiraan, muncul pula kekhawatiran tentang masa depan Venezuela. Sejumlah diaspora menilai penggulingan Maduro baru langkah awal menuju transisi politik yang belum pasti, seraya berharap kepemimpinan oposisi dapat membawa perubahan dan membuka jalan bagi kepulangan jutaan warga yang terpaksa meninggalkan tanah air mereka. (red-ms)