MTU News
Beranda Internasional Serangan AS-Israel ke Iran, Prabowo Bahas Nasib RI di BoP

Serangan AS-Israel ke Iran, Prabowo Bahas Nasib RI di BoP

Foto: Noer Hassan Wirajuda memaparkan hasil diskusi kebangsaan yang dipimpin Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (3/3/2026), seusai pertemuan. ANTARA/HO-Dokumentasi Pribadi.

JAKARTA || MTUNews.com – Prabowo Subianto menggelar pertemuan tertutup bersama sejumlah tokoh nasional di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (3/3) malam, untuk membahas posisi Indonesia sebagai anggota Dewan Perdamaian Gaza (Board of Peace/BoP) di tengah eskalasi konflik menyusul serangan sepihak Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.

Pertemuan yang berlangsung sekitar 3,5 jam itu secara khusus menyoroti masa depan dan efektivitas mandat BoP di tengah dinamika geopolitik kawasan Timur Tengah yang kian memanas.

Menteri Luar Negeri periode 2001–2009, Noer Hassan Wirajuda, menjelaskan bahwa pembahasan tidak hanya menitikberatkan pada peran Indonesia di BoP, tetapi juga mempertimbangkan dampak perang Iran terhadap legitimasi dan daya tawar lembaga tersebut.

“BoP kami bahas dalam konteks perkembangan mutakhir. Apakah perang yang berkecamuk di Iran ini berpotensi melemahkan posisi dan mandat BoP, itu yang sedang kita perhitungkan kembali,” ujar Hassan seusai pertemuan di Kompleks Istana Kepresidenan RI, Jakarta.

Diskusi kebangsaan itu turut dihadiri Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono, Presiden ke-7 Joko Widodo, Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 Jusuf Kalla, Wakil Presiden ke-11 Boediono, serta Wakil Presiden ke-13 Ma’ruf Amin.

Selain para mantan pemimpin nasional, pertemuan juga diikuti pimpinan partai politik yang memiliki kursi di DPR RI, perwakilan dunia usaha, jajaran menteri Kabinet Merah Putih, serta pimpinan lembaga negara.

Hassan mengungkapkan, Presiden memaparkan secara komprehensif eskalasi konflik di kawasan Teluk dan implikasinya terhadap stabilitas global maupun kepentingan nasional Indonesia. Kepala Negara juga mengajak para peserta mencermati posisi Indonesia di tengah melemahnya efektivitas Perserikatan Bangsa-Bangsa serta tantangan penegakan hukum internasional ketika pelanggaran dilakukan oleh negara-negara besar.

Menurut Hassan, Presiden menggambarkan situasi global saat ini sebagai kondisi yang menuntut Indonesia mampu “menavigasi” berbagai kepentingan di tengah banyaknya tekanan geopolitik. Selain aspek keamanan dan perdamaian dunia, pembahasan juga menyinggung potensi dampak konflik terhadap ekonomi global, khususnya gangguan pasokan minyak dan gas yang dapat memengaruhi stabilitas energi nasional.

Ia menambahkan, suasana pertemuan berlangsung cair dengan dialog dua arah yang konstruktif. “Presiden sangat terbuka dalam menanggapi berbagai usulan dan pemikiran dari para peserta,” kata Hassan. (red-win)

Komentar
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan