Timteng Memanas, Prabowo Pastikan RI Siaga
JAKARTA || MTUNews.com – Prabowo Subianto menegaskan Indonesia harus bersiap menghadapi berbagai kemungkinan dampak eskalasi konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran dengan Amerika Serikat dan Israel. Penegasan itu disampaikan dalam diskusi dan silaturahmi kebangsaan di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (3/3) malam.
Menteri Luar Negeri Sugiono mengatakan arahan Presiden disampaikan di hadapan para presiden dan wakil presiden terdahulu, mantan menteri luar negeri, serta para ketua umum partai politik. “Apa pun yang akan terjadi, kita harus siap menghadapi segala kemungkinan,” ujar Sugiono seusai pertemuan di Kompleks Istana Kepresidenan.
Merespons meningkatnya ketegangan, Sugiono menyebut telah menginstruksikan Duta Besar RI di Teheran untuk menyiapkan langkah evakuasi bagi warga negara Indonesia (WNI) yang menghendaki kepulangan. Ia menjelaskan, tidak seluruh WNI di wilayah terdampak memilih dievakuasi, namun sebagian telah menyatakan kesediaan sehingga proses pemulangan dilakukan secara bertahap sesuai perkembangan situasi.

Dari sisi diplomasi, Sugiono mengungkapkan telah berkomunikasi dengan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi. Dalam komunikasi tersebut, Indonesia menyampaikan penyesalan atas gagalnya perundingan yang berujung pada eskalasi konflik, sekaligus menegaskan pentingnya penghormatan terhadap integritas dan kedaulatan wilayah negara serta dorongan untuk kembali ke meja perundingan guna meredakan ketegangan.
Sugiono menambahkan, Presiden Prabowo juga menyampaikan keinginan Indonesia untuk berperan sebagai mediator dalam upaya mendinginkan situasi dan menurunkan eskalasi konflik di kawasan tersebut.
Pertemuan yang berlangsung sekitar 3,5 jam sejak pukul 19.30 WIB itu turut dihadiri Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono, Presiden ke-7 Joko Widodo, Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 Jusuf Kalla, Wakil Presiden ke-11 Boediono, serta Wakil Presiden ke-13 Ma’ruf Amin.
Hadir pula sejumlah ketua umum partai politik, mantan menteri luar negeri seperti Alwi Shihab, Noer Hassan Wirajuda, dan Marty Natalegawa, serta jajaran Kabinet Merah Putih. Diskusi berlangsung dinamis dengan pertukaran pandangan mengenai implikasi geopolitik dan dampaknya terhadap kepentingan nasional Indonesia. (red-ms)










