MTU News
Beranda Bencana Alam Banjir Bandang Nepal-Tibet: 165 Nyawa Melayang, Lebih dari 1.000 Orang Hilang

Banjir Bandang Nepal-Tibet: 165 Nyawa Melayang, Lebih dari 1.000 Orang Hilang

Foto: Rumah-rumah warga di Trishuli Bazar, Nepal, terendam lumpur setelah banjir bandang menerjang dan meninggalkan kerusakan parah. (AFP/Prabin Ranabhat)

MTUNews.com – Tim penyelamat terus berpacu dengan waktu mencari lebih dari 1.000 orang yang masih dinyatakan hilang setelah banjir bandang dan longsor dahsyat menerjang kawasan perbatasan Nepal-Tibet pada Rabu (26/8/2026). Bencana yang dipicu runtuhnya gletser tersebut telah menewaskan sedikitnya 165 orang serta menghancurkan permukiman, infrastruktur, kendaraan, dan fasilitas umum di sepanjang jalur sungai.

Di Nepal, aparat kepolisian telah menemukan sedikitnya 162 jenazah, sementara di wilayah Tibet, China, tiga orang dilaporkan meninggal dunia. Otoritas setempat juga mencatat 558 orang masih hilang, termasuk ratusan warga negara asing yang berada di kawasan tersebut saat bencana terjadi.

Kementerian Pariwisata Nepal melaporkan sebanyak 468 wisatawan belum diketahui keberadaannya, terdiri dari 393 wisatawan mancanegara dan sisanya wisatawan domestik. Dengan jumlah korban hilang di Nepal dan Tibet yang terus bertambah, total orang yang belum ditemukan kini melampaui 1.000 jiwa.

Korban yang masih hilang berasal dari berbagai negara, antara lain India, Australia, Inggris, Malaysia, Belanda, Portugal, Afrika Selatan, Korea Selatan, dan Amerika Serikat. Banyak di antaranya merupakan wisatawan dan peziarah yang tengah melakukan perjalanan di kawasan Himalaya.

Dahsyatnya banjir terekam kamera pengawas di wilayah Tibet. Rekaman menunjukkan gelombang lumpur raksasa menyerupai tsunami daratan menerjang bangunan, kendaraan, dan kawasan permukiman hanya dalam hitungan menit. Di Nepal, material lumpur dan bebatuan dalam jumlah besar menyapu aliran Sungai Bhote Koshi dan Trishuli hingga menghancurkan desa-desa di sepanjang lintasannya.

Badan Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) menyatakan bencana ini bukan dipicu gempa bumi sebagaimana dugaan awal. Hasil analisis menunjukkan aktivitas seismik yang tercatat berasal dari runtuhnya gletser yang memicu aliran material besar (debris flow), kemudian berubah menjadi banjir bandang dan longsor yang melanda wilayah hilir Nepal dan Tibet.

Ancaman belum sepenuhnya berakhir. Para ahli memperingatkan potensi banjir susulan akibat adanya sumbatan material di bagian hulu sungai perbatasan Nepal-China. Jika sumbatan tersebut runtuh, gelombang banjir baru berpotensi menghantam wilayah yang telah terdampak.

Untuk mempercepat pencarian korban, pemerintah Tibet mengerahkan hampir 800 personel tanggap darurat, didukung kendaraan penyelamat, anjing pelacak, dan perahu cepat. Sementara itu, militer Nepal terus melakukan evakuasi melalui jalur udara serta memindahkan warga yang tinggal di kawasan rawan bencana ke lokasi yang lebih aman.

Hingga kini, operasi pencarian masih berlangsung di tengah medan yang sulit, cuaca buruk, dan ancaman longsor susulan. Harapan untuk menemukan korban selamat masih terus dijaga, meski waktu menjadi tantangan terbesar bagi tim penyelamat di lapangan. (red – ms)

Komentar
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan