Drop Out Harvard, 3 Anak Muda Bikin Startup Chip AI Bernilai Rp370 Triliun
Daftar isi:
SAN JOSE || MTUNews.com – Tiga anak muda berusia 24 tahun mengambil keputusan berisiko: meninggalkan Harvard demi membangun perusahaan chip kecerdasan buatan (AI). Empat tahun kemudian, keputusan itu berbuah fantastis.
Gavin Uberti, Robert Wachen, dan Chris Zhu kini berada di balik Etched, startup chip AI asal San Jose, California, yang valuasinya telah menembus US$21 miliar atau sekitar Rp370 triliun.
Etched didirikan pada 2022. Ketiganya kala itu masih minim pengalaman di industri semikonduktor. Tak heran, investor sempat meragukan kemampuan mereka membangun perangkat keras AI yang mampu bersaing di industri yang dikuasai raksasa teknologi.

Namun, keraguan tersebut perlahan berubah menjadi kepercayaan.
Pada Desember 2025, Etched menggalang pendanaan US$500 juta dengan valuasi US$5 miliar. Enam bulan kemudian, perusahaan mengklaim berhasil memproduksi chip pertamanya dan mengantongi pesanan lebih dari US$1 miliar.
Pada Juli 2026, pendanaan Seri C sebesar US$300 juta yang dipimpin Sequoia Capital mengerek valuasi Etched menjadi US$10,3 miliar.
Belum genap sebulan, valuasinya kembali melonjak. Jane Street memimpin pendanaan US$700 juta pada Agustus 2026, membuat nilai perusahaan melesat menjadi US$21 miliar.

Membidik Celah Nvidia
Etched tidak mencoba meniru seluruh bisnis Nvidia. Startup ini memilih fokus pada satu area yang semakin penting dalam perkembangan AI: inferensi.
Jika pelatihan adalah proses ketika model AI belajar dari data, inferensi terjadi ketika model tersebut digunakan untuk menjawab pertanyaan atau menjalankan perintah pengguna.
Semakin luas penggunaan AI, semakin besar pula kebutuhan terhadap kecepatan pemrosesan, efisiensi energi, dan biaya komputasi yang rendah.
Di sinilah Etched ingin mengambil peluang.

Perusahaan mengembangkan perangkat keras yang dirancang khusus untuk mempercepat beban kerja inferensi AI. Etched mengklaim chipnya mampu menangani sejumlah beban kerja AI lebih dari 10 kali lebih cepat dibandingkan GPU Nvidia.
Namun, klaim tersebut masih membutuhkan pembuktian melalui pengujian benchmark independen secara ekstensif.
Dari Garasi hingga Valuasi Puluhan Miliar Dolar
Perjalanan Etched jauh dari mulus.
Pada masa awal, server yang digunakan untuk merancang chip bahkan ditempatkan di garasi salah satu karyawan. Infrastruktur sederhana itu menjadi bagian dari perjuangan tiga pendiri muda tersebut membangun perusahaan semikonduktor dari nol.

Kini, Etched telah berkembang menjadi perusahaan dengan lebih dari 400 karyawan dan mulai mengirimkan sistem AI kepada pelanggan.
Perusahaan juga mengoperasikan pusat data berkapasitas dua megawatt di San Jose serta fasilitas sekitar 80.000 kaki persegi dengan kapasitas 10 megawatt di Milpitas.
Sekitar 15 persen karyawan Etched disebut merupakan mantan pekerja Nvidia. Timnya juga diperkuat para insinyur yang memiliki pengalaman di Google, Broadcom, SK Hynix, dan TSMC.
Penantang Baru di Tengah Dominasi Nvidia
Pertumbuhan Etched menempatkannya sebagai salah satu pemain baru yang mencoba mengurangi dominasi Nvidia di industri chip AI.

Namun, pertarungannya jelas tidak seimbang.
Nvidia masih menguasai lebih dari 80 persen pasar chip AI dan memiliki keunggulan besar melalui ekosistem perangkat lunak CUDA. Selain itu, chip Nvidia mampu menangani berbagai kebutuhan AI, mulai dari pelatihan hingga inferensi.
Sebaliknya, Etched masih berkonsentrasi pada inferensi dan baru memasuki tahap penerapan komersial berskala besar.
Karena itu, valuasi US$21 miliar belum otomatis menjadikan Etched sebagai pesaing setara Nvidia. Teknologi yang menjanjikan tetap harus dibuktikan dengan kinerja, keandalan, dan kemampuan memenangkan pasar.

Meski demikian, kisah tiga drop out Harvard tersebut menunjukkan satu hal: keputusan meninggalkan kampus elite tidak selalu berakhir dengan kegagalan. Dalam kasus Etched, langkah penuh risiko itu justru membawa mereka ke salah satu pertaruhan terbesar di industri chip AI. (red-sjs)
sumber: kompas.com













