Kualitas Udara Buruk, Anak-anak di New Delhi Terserang Penyakit Pernafasan
New Delhi – Paparan udara kotor berdampak buruk pada anak-anak, yang mana sangat berpengaruh terhadap kesehatan dan perkembangan mereka.Hal tersebut kini sedang menjadi masalah bagi kota-kota di India yang bergelut dengan polusi udara yang parah.
Anak-anak menangis di ranjang rumah sakit dengan masker nebuliser di wajah mereka, seperti Ayansh Tiwari yang berusia satu bulan menderita batuk yang tebal dan menusuk. Dokternya menyalahkan pencemaran udara tajam yang melanda New Delhi setiap tahun.
Ruang gawat darurat sederhana di rumah sakit Chacha Nehru Bal Chikitsalaya yang dikelola pemerintah di ibu kota India dipenuhi anak-anak yang kesulitan bernapas. Banyak di antara mereka yang menderita asma atau pneumonia, kondisi tersebut meningkat seiring dengan puncak polusi udara setiap musim dingin di kota besar berpenduduk 30 juta jiwa itu.

“Membludaknya pasien saat ini sejak datangnya musim dingin yang mana membuat udara kotor terperangkap rendah lebih di bawah,” ujar dokter anak dan kepala rumah sakit, Seema Kapoor.
“30-40 persen yang masuk rumah sakit karena terkena gangguan pernafasan,” tambahnya.
New Delhi sering kali menempati peringkat di antara kota-kota besar yang paling tercemar di dunia, dengan beragam emisi pabrik dan kendaraan yang diperburuk dengan kebakaran pertanian musiman.
“Di mana pun Anda melihatnya, selalu ada kabut asap beracun,” kata ibu Ayansh, Julie Tiwari, 26, sambil menggendong bayinya di pangkuannya, mencoba menenangkannya.

“Saya berusaha menutup pintu dan jendela sebanyak mungkin. Tapi itu seperti menghirup racun sepanjang waktu. Saya merasa sangat tidak berdaya,” katanya sambil menahan air mata.
Pada hari Kamis (9/11) kemarin, tingkat partikel PM2.5 – cukup kecil untuk memasuki aliran darah – mencapai 390 mikrogram per meter kubik, menurut perusahaan pemantau IQAir. Jumlah tersebut lebih dari 25 kali lipat jumlah maksimum harian yang direkomendasikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Upaya pemerintah sejauh ini gagal menyelesaikan masalah kualitas udara di negara tersebut, dan sebuah penelitian di jurnal medis Lancet menghubungkan 1,67 juta kematian dini akibat polusi udara di negara terpadat di dunia itu pada tahun 2019. (Al Jazera/GHP)











