Buntut Personelnya Tewas, Tensi Iran dan AS Memanas
Jakarta – Serangan yang menewaskan tiga tentara AS di salah satu pos militernya yang terletak di Yordania membuat tensi diplomatik antara Teheran dan Washington memanas. Dunia saat ini sedang menanti tindakan balasan Amerika Serikat terhadap serangan tersebut.
Serangan yang disinyalir dilakukan oleh kelompok milisi yang didukung Iran itu juga melukai hingga 34 personel militer AS dengan menggunakan serangan drone atau pesawat nirawak pada 28 Januari 2024.
Iran menyangkal dengan keras terhadap tudingan AS, serta menyatakan bahwa Iran tidak terlibat dalam pengambilan keputusan yang dilakukan “kelompok perlawanan” yang memutuskan untuk menyerang pos militer AS yang dihuni sekitar 350 personel itu.

Tower 22, nama dari pos militer AS yang diserang itu terletak di bagian timur laut Yordania, sangat dekat dengan perbatasan Suriah.
Amerika Serikat pada saat ini diketahui memiliki puluhan pos militer di berbagai lokasi di kawasan Timur Tengah. Diketahui ada sekitar 3.000 tentara AS yang ditempatkan di Yordania, 2.500 tentara di Irak, dan 900 tentara di Suriah.
Media ABC News dari AS mengungkapkan bahwa seorang pejabat AS memberitahukan bahwa balasan AS akan dilakukan dalam jangka waktu beberapa hari ini dengan menyerang beragam sasaran.
Serangan balasan negara adidaya itu akan dilakukan terhadap sejumlah fasilitas yang dinilai memberdayakan serangan itu, tetapi pejabat itu tidak menyatakan apakah sasaran serangan balasan itu bakal dilaksanakan di dalam atau di luar Iran.

Sementara itu Iran mewanti-wanti Amerika Serikat untuk tak menantang mereka berperang usai tiga personel mereka tewas dalam serangan di pangkalan militer Yordania.
Kepala Garda Revolusi Islam Iran Mayor Jenderal Hossein Salami menegaskan pihaknya tak takut jika AS akan melancarkan perang.
“Kami memberi tahu mereka bahwa Anda menguji kami, dan kami tahu satu sama lain,” kata Salami, Rabu (31/1).
“Kami tak membiarkan ancaman apa pun tak terbalas, dan kami tak menginginkan perang. Namun kami tidak takut akan hal itu,” tegas Kepala Garda Revolusi Islam Iran itu.

Sejak berkobarnya perang di Gaza, berbagai pos militer AS di kawasan Timur Tengah kerap mendapat serangan drone dari berbagai kelompok militan, tetapi baru serangan kali ini yang menewaskan personel militer AS. (guardian/tje)











