Gotong Royong OUH: Rawat Warisan Pascagempa
TAPANULI UTARA || MTUNews.com – Puluhan warga keturunan Pinompar Ompung Ulang Huta (OUH) dari berbagai penjuru Nusantara bahkan luar negeri, menggelar kegiatan gotong royong sebagai bentuk solidaritas dan kepedulian terhadap warisan leluhur, pasca terjadinya gempa bumi yang mengguncang kawasan Luat Pahae, Kabupaten Tapanuli Utara pada Maret 2025 lalu.
Kegiatan gotong royong ini berlangsung pada Sabtu, 5 April 2025, berpusat di Desa Lumban Jaean, Kecamatan Pahae Julu, Tapanuli Utara—tanah asal Ompung Ulang Huta yang sarat nilai sejarah dan ikatan emosional bagi seluruh keturunannya.
Gempa bumi yang melanda wilayah tersebut telah menyebabkan sejumlah kerusakan, termasuk pada Tambak Ompung Ulang Huta, salah satu situs warisan leluhur yang sangat dihormati. Bangunan tambak mengalami retakan di beberapa titik, serta kerusakan pada lantai keramik yang copot akibat guncangan.

Menanggapi situasi ini, para Pinompar OUH yang tinggal di Bonapasogit secara sigap mengambil inisiatif menggelar aksi gotong royong. Kegiatan ini dikoordinasikan langsung oleh Rasional Sitompul, Kepala Desa Lumban Jaean, yang juga merupakan keturunan langsung OUH. Ia dibantu para sesepuh, tokoh masyarakat, hula-hula, boru, dan warga setempat dari Desa Lumban Jaean dan Desa Sibanganding.

Dalam kegiatan tersebut, dilakukan pembersihan area tambak, perbaikan awal terhadap kerusakan, serta pembersihan lingkungan sekitar. Aksi ini menjadi bukti nyata pelestarian semangat gotong royong yang diwariskan para leluhur, sekaligus bentuk dukungan terhadap anjuran pemerintah pusat maupun daerah yang terus mendorong penguatan nilai-nilai kebersamaan dalam masyarakat.
“Ini adalah kebiasaan orang tua kita zaman dulu. Sekarang kita lanjutkan untuk menjaga warisan dan mempererat hubungan antarsesama keturunan OUH,” ujar Rasional Sitompul.
Dari diskusi yang berlangsung baik di sela kegiatan maupun melalui grup WhatsApp keluarga besar OUH, muncul harapan agar Tambak Ompung Ulang Huta tidak sekadar diperbaiki, namun sekaligus dipugar dan dirapikan secara menyeluruh agar menjadi pusat sejarah dan kebanggaan bersama.

Dukungan pun mengalir dari berbagai wilayah perantauan. Bapak Hugo Herbet Sitompul (Ompung ni Si Anggit), seorang tokoh tua dari Pangaratto yang kini berdomisili di Kota Bekasi, menyampaikan rasa terima kasih dan apresiasi atas gerakan gotong royong di Bona Pasogit. Ia menyatakan dukungannya terhadap rencana pemugaran tambak secara menyeluruh.

Sementara itu, tokoh muda dari Provinsi Lampung, Pak Senator Sitompul, merespon secara aktif dengan mendorong agar segera disusun Rencana Anggaran Biaya (RAB) guna mempercepat proses pemugaran. Komitmen yang sama juga disampaikan oleh St. Ronal Sitompul (Ompung Mega), mantan Ketua OUH Jabodetabek dan pengurus Hatopan Toga Raja Sitompul wilayah Jabodetabek–Banten. Ia menegaskan pentingnya pelestarian situs sejarah OUH sebagai bentuk penghormatan kepada asal usul keluarga besar tersebut.
Dalam sambutannya, Rasional Sitompul menegaskan bahwa kegiatan ini adalah momentum untuk mempersatukan seluruh keturunan OUH di mana pun berada.
“Tanpa kita sadari, gotong royong ini menjadi perekat rasa kebersamaan kita. Kita adalah satu keluarga besar: keturunan Ompung Ulang Huta,” ujarnya.
Senada dengan itu, mantan Sekretaris Desa Lumban Jaean, Bapak John Sitompul (Pa Hermita), menyampaikan harapan agar seluruh keturunan OUH senantiasa menjaga kekompakan dan menjauhkan diri dari perpecahan.
“Kita harus terus bersatu. Jangan ada kotak-kotakan di antara kita. Ini tanggung jawab moral kita sebagai pewaris nama besar OUH,” ungkapnya.
Sebagai perwakilan boru dan amang boru atau lae, Pak Sihombing menambahkan pentingnya menanamkan nilai gotong royong dan kebersamaan kepada generasi muda agar mereka tetap menghargai sejarah dan memahami jati dirinya sebagai bagian dari keluarga besar Ompung Ulang Huta.
Salah satu Penasehat Toga Raja Sitompul Boru dan Bere Provinsi Lampug Oloan Sitompul (Ompung Yosia) juga berpesan, “Agar seluruh Pinompar Ompung Ulang Huta, di manapun berada—baik di Bona Pasogit maupun di perantauan—senantiasa diberkati dengan kesuksesan, kesehatan, dan hati yang bersatu, maka perlu dijaga semangat satu hati dan satu tujuan. Apapun yang direncanakan hendaknya dibahas secara matang, dilaksanakan dengan kerja nyata oleh panitia inti yang bertanggung jawab, dan dilandasi oleh niat tulus demi kebersamaan. Dengan demikian, setiap langkah akan mengarah pada kesepakatan bersama dan terciptanya mufakat demi kebaikan seluruh keturunan.”

Dari kalangan tokoh muda Bonapasogit, Mansyur Sitompul (Pak Kevin) mendorong agar semangat gotong royong ini segera ditindaklanjuti dalam bentuk nyata. Sementara itu, Malwin Sitompul (Ama Nitha), penggiat sosial, politik, dan budaya, menyampaikan bahwa sosok Ompung Ulang Huta dapat menjadi simbol pemersatu seluruh keturunannya, agar mereka tidak tercerai-berai dan tetap mengenal jati diri serta akar sejarahnya.
“Banyak kegiatan yang bisa dilakukan oleh keluarga besar OUH di mana pun berada. Bisa saja dibuat program Pulang Bersama, atau acara dengan tema Semalam di Bonapasogit: Lumban Jaean Bersama Seluruh Pinompar OUH. Namun yang penting, panitia inti atau hasuhuton tetap berasal dari Bonapasogit,” ungkap Malwin.
Sebagai penutup, Malwin berharap seluruh keturunan OUH di mana pun berada selalu sehat, sukses, dan tidak pernah melupakan kampung halaman.
Dengan semangat gotong royong yang terus menyala serta komitmen untuk melestarikan warisan leluhur, kegiatan ini menjadi tonggak penting dalam mempererat tali persaudaraan di antara ribuan keturunan Ompung Ulang Huta yang tersebar di berbagai belahan Indonesia hingga ke mancanegara. (red-msitompul)














