Arini menuturkan, dua pekan sebelum libur pondok, NS sempat mengungkapkan kegelisahannya karena enggan pulang ke rumah. Kalimat sederhana, “Mau pulang ke mana, Bu?” menjadi pertanda getir tentang ketakutan yang selama ini dipendam. Bahkan, sebulan sebelum kejadian, NS memberikan sarung kesayangannya kepada anak Arini sebagai kenang-kenangan, tanpa ada yang menyadari itu menjadi perpisahan terakhir.
Di Pondok Pesantren Darul Ma’arif, NS yang akrab disapa “Raja” dikenal sebagai santri pendiam, rajin, dan selalu duduk di barisan depan saat mengaji. Pengasuh pesantren, Ustaz Abdurrahman, menyebutnya sebagai salah satu santri terbaik yang tidak pernah melanggar aturan dan bercita-cita menjadi kiai, sesuai harapan ayahnya saat menitipkan NS untuk menuntut ilmu.
Kecurigaan muncul ketika NS tidak kembali ke pondok sesuai jadwal. Kekhawatiran berubah menjadi duka setelah beredar video yang memperlihatkan kondisi NS di rumah sakit dengan luka serius di tubuhnya. Pihak pesantren yang mengenalnya sehat saat pulang, terpukul melihat perubahan fisik yang begitu drastis.
Kasus ini berkembang setelah ibu kandung korban, Lisnawati, melaporkan mantan suaminya, Anwar Satibi, atas dugaan penelantaran anak. Kuasa hukumnya mengungkap adanya pesan singkat yang diduga menunjukkan pembiaran saat NS dalam kondisi sakit. Polisi menyatakan akan menindaklanjuti laporan tersebut secara profesional sesuai ketentuan Undang-Undang Perlindungan Anak.
Kini, di lingkungan pesantren, doa bersama terus dipanjatkan untuk mengenang sosok “Raja” yang dikenal baik dan bersahaja. Sarung yang ditinggalkannya menjadi kenangan terakhir, sementara kepergiannya menyisakan luka mendalam dan harapan akan tegaknya keadilan bagi seorang anak yang semasa hidupnya hanya ingin belajar dan pulang ke tempat yang aman. (red-win)