Survei IPO: Gerindra Teratas, PDIP dan Golkar Tertinggal
Daftar isi:
TANGERANG SELATAN || MTUNews.com – Hasil survei Indonesia Political Opinion (IPO) menunjukkan Partai Gerindra memiliki elektabilitas tertinggi apabila pemilihan legislatif (Pileg) digelar saat ini. Gerindra memperoleh tingkat elektabilitas sebesar 17,5 persen.
Direktur Eksekutif IPO Dedi Kurnia Syah mengatakan, Gerindra masih menjadi partai yang paling banyak dipilih responden, meski elektabilitasnya mengalami penurunan dibandingkan periode survei sebelumnya.
“Gerindra masih menjadi pilihan mayoritas masyarakat, meskipun jika dibandingkan dengan periode survei sebelumnya terjadi penurunan, tetapi itu tetap menempatkan Gerindra sebagai parpol dengan elektabilitas tertinggi saat ini,” kata Dedi dalam keterangannya, Minggu (9/8/2026).

Menurut Dedi, posisi Gerindra tidak terlepas dari statusnya sebagai partai politik pengusung Presiden Prabowo Subianto. Kondisi tersebut dinilai memberikan efek elektoral positif bagi partai yang dipimpin Prabowo.
Dalam survei tersebut, PDI Perjuangan (PDI-P) berada di posisi kedua dengan elektabilitas 12,8 persen, disusul Partai Golkar sebesar 10,4 persen.
Selanjutnya, Partai Demokrat berada di posisi keempat dengan 8,1 persen, kemudian Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) sebesar 7,0 persen.
Sementara itu, Partai Amanat Nasional (PAN) memperoleh 5,1 persen, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) 4,6 persen, dan Partai NasDem 4,4 persen.

Adapun sejumlah partai lainnya memperoleh elektabilitas di bawah dua persen. PSI tercatat 1,9 persen, PPP 1,6 persen, Perindo 0,9 persen, Partai Gerakan Rakyat 0,5 persen, Partai Gelora 0,4 persen, dan Partai Hanura 0,2 persen.
Sedangkan Partai Ummat, Partai Buruh, PKN, dan Partai Garuda belum memperoleh dukungan yang terukur dalam survei tersebut.
Di sisi lain, sebanyak 24,6 persen responden menyatakan belum menentukan pilihan atau memilih merahasiakan pilihannya.
Basis Pemilih Mulai Bergeser
Dedi menilai hasil survei tersebut menunjukkan adanya perubahan preferensi pemilih dalam beberapa tahun terakhir. Jika sebelumnya PDI-P kerap mendominasi berbagai survei nasional, kini sebagian basis pemilih terlihat mulai bergeser ke Gerindra.

Menurutnya, pergeseran tersebut salah satunya berkaitan dengan posisi Gerindra sebagai partai utama pendukung pemerintahan Prabowo.
“Tentu dimaklumi sebagai parpol penguasa, Gerindra cenderung mampu mengambil alih porsi pemilih yang sebelumnya dikuasai PDI-P. Jika kebijakan Presiden ke depan kian diterima publik, bukan tidak mungkin elektabilitas Gerindra semakin kuat di posisi puncak,” ujar Dedi.
Meski demikian, tingginya elektabilitas Gerindra belum dapat dianggap sebagai gambaran final untuk Pemilu mendatang. Preferensi politik masyarakat masih sangat dinamis dan dapat berubah mengikuti perkembangan pemerintahan serta kebijakan yang dirasakan publik.
Survei IPO tersebut dilaksanakan pada 27 Juli hingga 3 Agustus 2026 dengan melibatkan 1.200 responden yang dipilih menggunakan metode multistage random sampling.

Survei memiliki tingkat kepercayaan 95 persen dengan margin of error sekitar ±2,9 persen. (red-ms)












