MTU News
Beranda Organisasi Jokowi: Kekuasaan Itu Sementara, Jangan Menjatuhkan Orang

Jokowi: Kekuasaan Itu Sementara, Jangan Menjatuhkan Orang

Foto: Joko Widodo (Jokowi) saat menghadiri peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW sekaligus Haul ke-8 Al-Maghfurlah KH Musyafa Ali di Pondok Pesantren Al-Falah, Kebumen, Jawa Tengah, Sabtu (29/8/2026). (KOMPAS.com/Bayu Apriliano)

Jokowi: Kekuasaan Itu Sementara, Jangan Dipakai untuk Menjatuhkan Orang

KEBUMEN || MTUNews.com – Presiden ke-7 Republik Indonesia Joko Widodo (Jokowi) mengingatkan bahwa kekuasaan dan jabatan tidak semestinya digunakan untuk menjatuhkan, menyakiti, atau merendahkan orang lain.

Jokowi menegaskan, kekuasaan yang dimiliki seseorang pada hakikatnya hanya bersifat sementara. Karena itu, amanah dan jabatan harus dijalankan dengan bijaksana serta tetap menjunjung adab dan tata krama.

Pesan tersebut disampaikan Jokowi saat menghadiri peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW sekaligus Haul ke-8 Al-Maghfurlah KH Musyafa Ali di Pondok Pesantren Al-Falah, Kebumen, Jawa Tengah, Sabtu (29/8/2026).

Dalam kesempatan tersebut, Jokowi menyampaikan sebuah petuah Jawa, “Lamun siro sekti, ojo mateni”, yang secara sederhana bermakna bahwa seseorang yang memiliki kekuatan atau kekuasaan tidak boleh menggunakan kelebihannya untuk mencelakai atau menjatuhkan orang lain.

“Meskipun kamu sakti, jangan suka menjatuhkan atau membunuh. Memang kita punya kekuasaan, ya besar, kemudian kita pakai untuk menjatuhkan orang. Itu hal yang tidak baik,” ujar Jokowi.

Menurut Jokowi, pesan tersebut relevan bagi siapa saja yang mendapat amanah untuk memimpin, baik dalam lingkup pemerintahan maupun kehidupan bermasyarakat.

Ia mencontohkan pemimpin di tingkat desa atau kelurahan. Menurutnya, seseorang tidak boleh berubah menjadi arogan hanya karena memperoleh jabatan dan kewenangan.

“Jangan mentang-mentang jadi lurah, kemudian ke rakyatnya sering ngendika banter, sering ngendika kasar ke rakyat, enggak boleh,” kata Jokowi.

Kekuasaan Hanya Sementara

Jokowi kemudian mengingatkan bahwa tidak ada kekuasaan maupun jabatan yang berlangsung selamanya. Setiap pemimpin pada akhirnya akan meninggalkan posisi yang pernah diembannya.

“Karena kekuasaan itu hanya sementara. Kekuasaan itu hanya sak detik. Jabatan itu hanya sampiran, itu yang harus diingat waktu kita memiliki kekuasaan,” ujarnya.

Menurut Jokowi, kesadaran bahwa jabatan hanya sementara seharusnya menjadi pengingat bagi setiap orang agar tidak menggunakan kewenangan secara sewenang-wenang.

Ia juga mengajak masyarakat menjaga adab, sopan santun, dan tata krama dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, setiap perkataan maupun tindakan, terlebih yang disampaikan di hadapan masyarakat, seharusnya memberikan teladan yang baik.

“Adab ketimuran, sopan santun, tata krama harus dijaga,” kata Jokowi.

Ajak Masyarakat Saling Menghormati

Jokowi menilai kebiasaan saling mencaci, menghina, dan merendahkan hanya akan memperbesar persoalan di tengah masyarakat. Karena itu, ia mengajak semua pihak untuk mengedepankan sikap saling menghormati.

Menurutnya, seseorang yang memiliki kekuasaan, ilmu, maupun kelebihan tertentu justru harus semakin mampu mengendalikan diri dan tidak menjadikan kelebihan tersebut sebagai alasan untuk merendahkan orang lain.

Pesan itu disampaikan Jokowi sebagai bagian dari refleksi moral dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Ia menekankan pentingnya menjadikan adab dan tata krama sebagai pegangan, terutama bagi mereka yang memiliki jabatan, pengaruh, dan kekuasaan.

Sebab, jabatan dan kedudukan tidak akan dimiliki seseorang untuk selamanya.

“Karena kekuasaan itu hanya sementara,” tegas Jokowi. (red-sjs)

Komentar
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan