Pada perdagangan sore, rupiah tercatat berada di kisaran Rp16.997 per dolar AS setelah sebelumnya sempat menyentuh posisi Rp17.006 per dolar AS. Pelemahan tersebut terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian global yang memicu penguatan mata uang dolar AS di pasar internasional.
Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi menilai tekanan terhadap rupiah terutama dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel mendorong lonjakan harga minyak dunia sehingga memberikan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Selain faktor geopolitik, sentimen kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve, juga turut memengaruhi pergerakan rupiah. Pelaku pasar menilai peluang kenaikan suku bunga AS masih terbuka, terutama setelah harga minyak dunia melonjak dan mendekati kisaran 100 dolar AS per barel akibat gangguan distribusi di jalur strategis Selat Hormuz.
Sementara itu, analis Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) Muhammad Amru Syifa menyebut meningkatnya permintaan terhadap aset safe haven juga memperkuat dolar AS. Meski demikian, ia menilai fundamental ekonomi Indonesia masih relatif kuat, didukung inflasi yang terkendali, stabilitas makroekonomi, serta neraca perdagangan yang masih mencatatkan surplus. (red-win)