MTU News
Beranda Politik Safari Jokowi, Menabung Suara untuk 2029

Safari Jokowi, Menabung Suara untuk 2029

Foto: Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) saat menerima gelar adat Sesepuh Raja-raja Timor di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (1/8/2026).

TANGERANG SELATAN || MTUNews.com – Langkah politik Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) dinilai belum berhenti meski tidak lagi menjabat sebagai kepala negara. Mantan Wali Kota Solo dan Gubernur DKI Jakarta itu masih aktif mengunjungi sejumlah daerah, termasuk Lampung dan Nusa Tenggara Timur (NTT), yang selama ini dikenal memiliki basis dukungan kuat terhadap dirinya.

Kunjungan tersebut tidak hanya diisi kegiatan politik bersama Partai Solidaritas Indonesia (PSI), tetapi juga dibalut agenda budaya melalui pemberian gelar adat dan pertemuan dengan masyarakat.

Safari politik Jokowi itu pun memunculkan pertanyaan, apakah kunjungan tersebut sebatas silaturahmi atau bagian dari strategi membangun kembali kekuatan politik untuk menghadapi Pemilu 2029.

Lampung menjadi salah satu daerah yang lebih dulu dikunjungi Jokowi. Mengenakan kemeja dan topi berlogo PSI, ia menghadiri Rapat Koordinasi Daerah (Rakorda) PSI Lampung di Kabupaten Mesuji.

Dalam kesempatan tersebut, Jokowi mengungkapkan alasan memilih Lampung sebagai daerah pertama yang dikunjungi karena memiliki kedekatan emosional dengan masyarakat setempat.

“Kecintaan saya kepada masyarakat Lampung tidak luntur, masih tetap,” ujar Jokowi saat menghadiri Rakorda PSI di Kabupaten Mesuji pada 26 Juni 2026.

Jokowi juga memberikan apresiasi terhadap kepengurusan PSI Lampung yang disebut telah terbentuk hingga tingkat desa. Agenda politik itu kemudian dilanjutkan dengan prosesi penganugerahan gelar adat kehormatan “Baginda Pemuka Bangsa” di Kedaton Keagungan, Bandar Lampung.

Sekitar satu bulan kemudian, Jokowi melanjutkan safari politiknya ke NTT. Di Kota Kupang, ia menghadiri Rakorda PSI sekaligus Festival dan Karnaval Gajah bersama Ketua Umum PSI Kaesang Pangarep, Sekretaris Jenderal PSI Raja Juli Antoni, serta jajaran pengurus partai.

Dalam Rakorda PSI Kota Kupang, Jokowi secara terbuka meminta kader bekerja lebih keras memperkenalkan identitas partai kepada masyarakat demi menghadapi Pemilu 2029.

“Dari sinilah kita akan memiliki mesin besar, mesin dengan CC besar. Dan dengan mesin ini, kita akan menuju sebuah kemenangan yang besar di 2029,” kata Jokowi di hadapan ribuan kader PSI di Hotel Harper, Kota Kupang, Sabtu (1/8/2026).

Selain agenda politik, Jokowi juga menerima penghormatan adat dari sembilan kerajaan di Pulau Timor.

Dinilai Memupuk Basis Politik

Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion (IPO) Dedi Kurnia Syah menilai pilihan Jokowi mengawali safari politik di Lampung dan kemudian berlanjut ke NTT bukan tanpa pertimbangan.

Menurut Dedi, kedua wilayah tersebut selama ini termasuk daerah yang memberikan dukungan politik cukup besar kepada Jokowi.

“Dalam data pemilih di Lampung dan NTT memang Jokowi mendapat respons yang cukup besar, sehingga ini pilihan terbaik untuk memupuk pengaruh dan mendapatkan pemilih untuk Jokowi maupun yang didukung Jokowi,” kata Dedi kepada Kompas.com, Senin (3/8/2026).

Dedi menilai agenda tersebut memiliki kepentingan politik yang lebih luas, terutama setelah Jokowi menjadi bagian dari PSI. Menurutnya, safari politik itu dapat menjadi salah satu upaya meningkatkan elektabilitas PSI sekaligus memperkuat dukungan terhadap Gibran Rakabuming Raka.

“Sebagai bagian dari PSI, jelas langkah ini diupayakan dalam mendorong peningkatan elektabilitas PSI, juga bahkan untuk Gibran,” ujarnya.

Ia menilai pengaruh personal Jokowi di sejumlah wilayah masih cukup kuat dan berpotensi membantu meningkatkan suara PSI maupun figur yang mendapat dukungannya pada Pemilu 2029.

Meski demikian, Dedi mengingatkan bahwa pengaruh Jokowi tidak otomatis menjamin PSI mampu lolos ke parlemen.

“Meskipun tidak menjamin PSI masuk ke parlemen, tetapi saat ini Jokowi adalah tokoh paling besar dampaknya pada PSI,” katanya.

Ketika ditanya apakah safari politik tersebut dapat dimaknai sebagai upaya “menabung elektoral” menuju 2029, Dedi menilai hal itu memang menjadi salah satu tujuan politik Jokowi.

“Tentu, dan memang itu tujuan Jokowi,” ujarnya.

Pengamat Sebut Efek Jokowi Tak Lagi Perkasa

Pandangan berbeda disampaikan pengamat komunikasi politik Universitas Esa Unggul, M Jamiluddin Ritonga. Ia menilai safari politik Jokowi menunjukkan adanya upaya membesarkan PSI sekaligus menjaga kesinambungan pengaruh politik keluarga Jokowi menjelang Pemilu 2029.

Menurut Jamiluddin, kunjungan ke NTT dapat dipandang sebagai langkah memperkuat basis dukungan yang telah dibangun selama dua periode pemerintahan Jokowi.

“Jokowi ingin memperkuat basisnya di NTT yang sudah ditanamnya selama 10 tahun saat menjabat presiden. Jadi kedatangan Jokowi untuk mengingatkan warga NTT tentang ‘jasanya’ selama menjadi presiden. Jokowi berharap warga NTT akan membalasnya pada Pileg dan Pilpres 2029,” kata Jamiluddin.

Namun, ia menilai strategi tersebut tidak akan mudah. Salah satu tantangannya adalah keberadaan PDI Perjuangan (PDI-P) yang selama ini memiliki basis dan kader militan di NTT.

“Namun harapan Jokowi itu tampaknya tidak mudah. Sebab, Jokowi harus bersaing dengan PDIP yang memiliki kader militan di NTT,” ujarnya.

Jamiluddin juga berpandangan masyarakat tidak serta-merta mengubah pilihan politik hanya karena kedekatan emosional dengan Jokowi. Ia menilai pengaruh Jokowi saat ini tidak lagi sebesar ketika masih menjabat sebagai presiden.

“Kalau pun ada kenaikan suara, tampaknya tidak akan signifikan. Hal itu disebabkan persoalan trust terhadap Jokowi yang terus menurun. Hal itu menyulitkan Jokowi untuk mempengaruhi masyarakat beralih ke PSI dan Gibran,” katanya.

“Karena itu, efek Jokowi hanya tinggal mitos. Jokowi sudah tidak perkasa untuk mendongkrak suara PSI dan Gibran,” lanjutnya.

Safari politik Jokowi ke sejumlah daerah akhirnya menjadi perhatian karena tidak hanya memperlihatkan aktivitas silaturahmi, tetapi juga memperlihatkan upaya menjaga pengaruh politik menjelang Pemilu 2029. Seberapa besar pengaruh tersebut mampu dikonversi menjadi dukungan elektoral masih akan menjadi pertarungan politik dalam beberapa tahun ke depan. (red-tim)

sumber: kompas.com

Komentar
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan