Direktur Perlindungan WNI Kemlu, Judha Nugraha, menyampaikan informasi ini dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat (4/10). Ia menjelaskan bahwa sebelumnya, pada Agustus 2024, 25 WNI telah dievakuasi dari Lebanon dan kembali dengan selamat ke Indonesia.
Pada awalnya, pada September, hanya enam WNI yang bersedia dievakuasi meski serangan udara Israel terhadap Hizbullah sudah dimulai. Namun, jumlah tersebut meningkat menjadi 40 orang yang bersedia untuk dievakuasi dalam evakuasi terbaru ini.
“Sebanyak 40 orang ini berhasil kami evakuasi melalui jalur darat pada tanggal 2 dan 3 Oktober. Selain itu, ada satu warga Lebanon, yang merupakan pasangan dari salah satu WNI, turut dievakuasi,” ujar Judha.
Dari total 40 orang tersebut, 20 sudah tiba di Amman, Yordania, terdiri dari 14 pria dan 6 wanita. Mereka berasal dari berbagai wilayah di Indonesia seperti Jakarta, Riau, Aceh, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera Utara, DIY, dan Bali.
Sementara itu, 20 WNI lainnya berada di Damaskus, Suriah, menunggu untuk diberangkatkan ke Yordania. Judha memastikan bahwa KBRI Amman sudah siap menjemput mereka di perbatasan. “Kami akan menyerahkan mereka dari KBRI Damaskus ke KBRI Amman, dan akan mengawal mereka ke Amman untuk bergabung dengan kelompok WNI yang sudah tiba di sana,” jelas Judha.
Mengenai jumlah WNI yang masih berada di Lebanon, Judha mengungkapkan bahwa jumlahnya bervariasi. “Jumlahnya fluktuatif. Beberapa telah keluar menggunakan penerbangan komersial, sementara ada yang baru melapor diri. Saat ini, jumlah WNI di Lebanon masih sekitar 159 orang, di luar staf KBRI dan pasukan TNI yang bertugas di UNIFIL,” tambahnya.
Kementerian Luar Negeri dan KBRI Beirut siap melakukan evakuasi lebih lanjut jika ada WNI yang bersedia dievakuasi dari wilayah konflik tersebut. (Red-Win)