Prabowo menuturkan bahwa semangat rekonsiliasi dalam politik dalam negeri Indonesia terinspirasi dari keteladanan Nelson Mandela, tokoh anti-apartheid sekaligus Presiden pertama Afrika Selatan pasca-rezim apartheid.
“Kebesaran Nelson Mandela adalah ketika keluar dari penjara, dia tidak menuntut balas, tapi justru mengupayakan rekonsiliasi dengan musuh-musuhnya. Itu juga yang saya coba lakukan di Indonesia,” kata Prabowo, dikutip dari pernyataan resmi yang dirilis Antara, Sabtu (21/6).
Lebih lanjut, Prabowo menyoroti pengalaman pribadinya berdamai dengan Muzakir Manaf, sosok yang dulunya terlibat dalam konflik bersenjata dengan pemerintah selama lebih dari dua dekade. Menurut Prabowo, proses itu menjadi contoh nyata bahwa rekonsiliasi sejati dapat terwujud bahkan di antara pihak-pihak yang pernah bertikai secara langsung.
“Sekarang beliau menjadi bagian dari partai saya, Partai Gerindra. Ia kini menjabat sebagai Gubernur Aceh, dan saya adalah Presiden Indonesia. Ini membuktikan bahwa mantan musuh bisa bersatu demi masa depan bersama,” tegas Prabowo, yang mendapat sambutan meriah dari peserta forum.
Sebagai mantan prajurit militer, Prabowo menekankan pentingnya nilai-nilai damai dan dialog dalam penyelesaian konflik.
“Sebagai tentara, saya tahu nilai dari perdamaian. Saya selalu percaya bahwa lebih baik bernegosiasi daripada berperang. Selalu lebih baik untuk berbicara daripada saling membunuh,” ujarnya menutup sesi dengan nada reflektif.
Pernyataan Prabowo tersebut dinilai tidak hanya memperkuat citra diplomatik Indonesia di kancah internasional, tetapi juga memperlihatkan bagaimana pendekatan damai dapat menjadi kekuatan dalam membangun kembali hubungan nasional yang lebih inklusif dan stabil. (red-Win)