Secara historis, Selandia Baru memang mencatat migrasi keluar dalam jumlah moderat—sekitar 3.000 orang per tahun sebelum pandemi—yang umumnya diimbangi kedatangan imigran. Namun dalam dua tahun terakhir, tren tersebut melonjak tajam di tengah melemahnya pasar tenaga kerja dan persepsi stagnasi ekonomi. Pertumbuhan PDB yang diperkirakan hanya sekitar 1% pada 2025, tingkat pengangguran 5,3% (tertinggi dalam hampir satu dekade), serta kenaikan biaya hidup yang melampaui pertumbuhan upah menjadi faktor pendorong utama.
Berbeda dengan pola sebelumnya—yang didominasi kaum muda yang merantau sementara—kini semakin banyak pekerja berpengalaman hengkang tanpa rencana kembali. Para analis menilai pergeseran ini mengindikasikan persoalan struktural, bukan sekadar siklus migrasi biasa seperti saat krisis keuangan global 2011–2012 yang bersifat sementara.
Australia menjadi tujuan utama, menyerap sekitar 60% warga Selandia Baru yang bermigrasi. Saat ini lebih dari 700.000 warga Selandia Baru—sekitar 13% populasi—tinggal di Australia. Kedekatan geografis, jaringan sosial yang kuat, serta peluang kerja yang lebih luas menjadi daya tarik tambahan.
Dari sisi ekonomi, Australia menawarkan pertumbuhan lebih dari 2% dan pasar tenaga kerja yang lebih dinamis dengan tingkat pengangguran lebih rendah. Upah yang lebih tinggi dan berbagai insentif perekrutan memperkuat arus perpindahan. Di sektor kesehatan, misalnya, gaji perawat di Australia berkisar A$85.000–A$90.000 per tahun atau sekitar Rp1 miliar lebih, memicu lebih dari 10.000 perawat Selandia Baru mendaftar kerja di sana dalam setahun terakhir. Sektor keamanan, pertambangan, dan konstruksi juga aktif merekrut tenaga terampil dengan paket gaji dan fasilitas yang kompetitif.
Kombinasi tekanan ekonomi domestik dan daya tarik kuat dari Australia membuat eksodus kali ini dinilai lebih dalam dan berpotensi berkepanjangan, menimbulkan tantangan serius bagi keberlanjutan pasar tenaga kerja dan pertumbuhan ekonomi Selandia Baru. (red-Jeconiah)