Iran Punya Pemimpin Tertinggi Baru: Mojtaba Khamenei
TOKYO || MTUNews.c0m – Mojtaba Khamenei resmi ditunjuk sebagai Pemimpin Tertinggi Iran yang baru untuk menggantikan ayahnya, almarhum Ayatollah Ali Khamenei, menurut laporan media pemerintah Iran pada Senin (9/3). Keputusan tersebut menandai babak baru kepemimpinan di republik Islam tersebut setelah wafatnya tokoh yang telah memimpin negara itu selama lebih dari tiga dekade.
Pada usia 56 tahun, Mojtaba Khamenei menjadi Pemimpin Tertinggi ketiga Iran sejak terjadinya Revolusi Islam Iran 1979. Banyak pengamat memperkirakan ia akan meneruskan garis kebijakan keras ayahnya, khususnya dalam menghadapi tekanan politik dan militer dari Amerika Serikat.
Keluarga Khamenei juga dilaporkan menjadi korban dalam serangan udara yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari lalu. Dalam serangan tersebut, istri Mojtaba serta sejumlah anggota keluarganya termasuk di antara korban yang tewas. Sementara itu, Korps Garda Revolusi Islam pada Senin menyatakan dukungan penuh terhadap kepemimpinan Mojtaba.

Di Iran, jabatan Pemimpin Tertinggi merupakan otoritas tertinggi negara yang memiliki kendali atas cabang eksekutif, legislatif, hingga yudikatif. Posisi tersebut juga memiliki kewenangan menentukan kebijakan strategis nasional, termasuk arah program nuklir dan kebijakan pertahanan negara.
Sebelumnya, Presiden Donald Trump menyatakan bahwa siapa pun yang menjabat sebagai Pemimpin Tertinggi Iran tanpa “persetujuan” Washington tidak akan bertahan lama di posisi tersebut.
Menurut media pemerintah Iran, pengangkatan Mojtaba sebagai pemimpin tertinggi dilakukan melalui mufakat Majelis Ahli Iran, lembaga yang terdiri dari 88 ulama dan memiliki kewenangan memilih serta mengawasi pemimpin tertinggi negara.
Profil Mojtaba Khamenei
Mojtaba Khamenei lahir pada 8 September 1969 di kota suci Mashhad, salah satu pusat keagamaan utama di Iran. Ia merupakan putra kedua dari Ayatollah Ali Khamenei dan cucu ulama terkemuka Sayyed Javad Khamenei.

Sejak kecil, Mojtaba tumbuh di tengah dinamika politik yang kuat. Ia menyaksikan langsung perjalanan ayahnya dari tokoh penting dalam Revolusi Islam hingga menjabat Presiden Iran dan kemudian menjadi pemimpin tertinggi negara sejak 1989.
Mojtaba menikah dengan Zahra Haddad-Adel, putri dari politikus konservatif ternama Gholam-Ali Haddad-Adel yang pernah menjabat sebagai Ketua Parlemen Iran. Zahra termasuk di antara korban yang tewas ketika serangan udara menargetkan kompleks kediaman keluarga Khamenei di ibu kota Teheran.
Serangan tersebut juga merenggut nyawa sejumlah anggota keluarga lainnya, termasuk ibu Mojtaba, saudara perempuan, ipar, dan beberapa keponakannya. Mojtaba sendiri selamat dari serangan itu.
Suksesi di Tengah Ancaman
Mojtaba Khamenei mengambil alih kepemimpinan Iran di tengah situasi geopolitik yang sangat tegang. Transisi kekuasaan ini berlangsung ketika hubungan Iran dengan Israel dan Amerika Serikat berada pada titik konflik yang tajam.

Pemerintah Israel bahkan secara terbuka mengancam akan menargetkan siapa pun pemimpin Iran yang dianggap melanjutkan kebijakan konfrontatif terhadap negara tersebut.
Menteri Pertahanan Israel Katz melalui platform media sosial X menyatakan bahwa setiap pemimpin Iran yang dianggap mengancam Israel, Amerika Serikat, dan negara-negara kawasan akan menjadi target serangan.
Ancaman tersebut menegaskan besarnya tekanan yang mengiringi proses suksesi di Iran, sekaligus menempatkan Mojtaba Khamenei di pusat pusaran konflik geopolitik yang melibatkan kekuatan besar di kawasan Timur Tengah. (red-ms)
Sumber: Kyodo-OANA dan Anadolu













