Kepala Lingkungan 2 Gunung Tua, Kelurahan Sipange, Romario Sitompul (36), mengatakan warga telah hidup tanpa listrik selama hampir tiga pekan. Kondisi tersebut memaksa masyarakat berjalan kaki untuk beraktivitas karena kendaraan sulit melintas. “Kami sudah hampir tiga minggu tidak menikmati aliran listrik. Akses jalan masih sulit, warga harus berjalan kaki menuju arah Pandan,” ujar Romario saat ditemui di Posko Bantuan Sipange, Rabu.
Ia menjelaskan, longsor juga menyebabkan sejumlah tiang listrik roboh. Untuk memenuhi kebutuhan dasar, warga sementara mengandalkan genset guna penerangan, memasak, serta mengisi daya ponsel. “Ada warga yang membeli genset sendiri, ada juga yang hasil iuran warga dan dibantu anak rantau,” katanya.
Selain listrik, warga Sipange juga mengalami krisis air bersih. Untuk kebutuhan minum, memasak, dan mandi, masyarakat kini mengandalkan air pegunungan yang ditampung secara sederhana. “Saat musim hujan, air pegunungan mengalir di jalan, lalu ditampung menggunakan bambu,” ujar Romario.
Menurut dia, sebelum longsor terjadi, hujan deras mengguyur wilayah Sipange selama sekitar satu pekan. Puncaknya terjadi pada Selasa, ketika longsor merusak puluhan rumah warga sekaligus menutup akses jalan. “Ada tiga jalur yang tertutup longsor. Baru dua hingga tiga hari terakhir satu jalur bisa dibuka,” katanya.
Dampak banjir dan longsor juga merusak berbagai perabotan rumah tangga milik warga, seperti televisi dan lemari es, meski dokumen penting berhasil diselamatkan. “TV, kulkas, dan perabotan rumah banyak yang rusak. Bahkan ada warga yang rumahnya hancur total, termasuk kendaraan yang ikut rusak,” ujar Romario.
Saat ini, sebanyak 85 kepala keluarga terpaksa mengungsi di gedung sekolah terdekat. Aktivitas belajar mengajar pun diliburkan sementara demi keselamatan warga terdampak. (red-tim/hm)