Wakil Kepala BGN, Nanik Sudaryati Deyang, dalam keterangan yang disampaikan melalui akun Instagram resminya, Senin, menjelaskan bahwa beberapa menu diketahui dapat memicu keluhan seperti mual, muntah, diare, hingga sakit perut.
Salah satu menu yang paling sering menjadi penyebab adalah soto. Menurutnya, penggunaan kondimen mentah seperti kol, seledri, dan tauge, serta penyajian kuah dalam kondisi dingin, meningkatkan risiko kontaminasi bakteri, termasuk E. coli. Kondisi tersebut berpotensi terjadi ketika kuah dingin disiramkan ke bahan mentah oleh siswa, terutama pada anak dengan daya tahan tubuh rendah.
Selain itu, BGN juga mencatat bahwa makanan seperti nasi kuning, nasi uduk, dan nasi goreng rentan menyebabkan gangguan pencernaan karena mudah basi jika tidak ditangani dengan baik. Jenis makanan berbahan mi juga masuk dalam daftar berisiko, khususnya jika proses pengolahannya langsung dicampur dengan sayuran tanpa pengolahan yang tepat.
Lebih lanjut, Nanik mengungkapkan bahwa ayam suwir menjadi salah satu penyumbang kasus keracunan tertinggi. Hal ini disebabkan penggunaan bahan baku ayam yang kurang segar, serta proses pengolahan yang tidak higienis, seperti penyuwiran tanpa sarung tangan dan dilakukan jauh sebelum waktu penyajian.
Ia juga menyoroti penggunaan saus dalam makanan yang dimasak kurang matang dan dikonsumsi dalam jangka waktu lama, bahkan hingga lebih dari 12 jam setelah proses memasak, yang berpotensi meningkatkan risiko kontaminasi.
Sementara itu, menu seperti ayam bakar dan ikan barbeque juga ditemukan dapat memicu gangguan pencernaan. Hal ini disebabkan proses pemasakan yang tidak merata karena penggunaan alat torch, sehingga bagian dalam makanan tidak matang sempurna.
Atas temuan tersebut, BGN untuk sementara tidak merekomendasikan menu-menu tersebut dalam program MBG, khususnya sebelum Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) memiliki tenaga juru masak yang kompeten serta memahami standar pengolahan makanan yang aman dan higienis. (red-ms)