Abdul Wahid: SF Hariyanto Paling Banyak Habis Duit di Pilkada
PEKANBARU || MTUNews.com – Gubernur Riau nonaktif Abdul Wahid mengaku pernah mengklarifikasi secara langsung kepada SF Hariyanto terkait pernyataan yang menyebut wakil gubernur tersebut mengaku sebagai pihak yang paling banyak mengeluarkan uang dalam Pemilihan Gubernur Riau 2024.
Pernyataan itu disampaikan Abdul Wahid saat menjalani sidang pemeriksaan terdakwa dalam perkara dugaan pemerasan di Pengadilan Negeri Pekanbaru, Kamis (2/7/2026).
Menurut Abdul Wahid, klarifikasi itu dilakukan sebelum pelantikan kepala daerah pada 20 Februari 2025. Pertemuan berlangsung di sebuah kedai kopi di kawasan Patal Senayan, Jakarta, dan turut dihadiri Dani M. Nursalam yang kini juga menjadi terdakwa dalam perkara yang sama.

“Saya bilang, Pak Wagub, saya ingin bertanya. Bapak ngomong ke sana kemari bahwa Pak Wagub paling banyak habis uang dalam pemilihan gubernur. Saya ingin mengklarifikasi ini supaya tidak bias,” ujar Abdul Wahid di hadapan majelis hakim.
Dalam persidangan, Abdul Wahid juga mengungkapkan bahwa sejak awal dirinya justru mendorong SF Hariyanto maju sebagai calon gubernur karena mengaku tidak memiliki ambisi untuk menduduki jabatan tersebut.
“Saya hanya membantu Bapak. Saya yang meminta Bapak maju sebagai gubernur. Saya tidak pernah punya niat menjadi gubernur,” katanya.
Namun, menurut Abdul Wahid, setelah menjabat sebagai Penjabat (Pj) Gubernur Riau, SF Hariyanto justru menyatakan keinginan untuk maju sebagai calon gubernur. Keinginan itu, kata dia, diketahui banyak pihak.

Ia menambahkan, hasil survei saat itu menunjukkan elektabilitas SF Hariyanto hanya sekitar 4 persen sehingga dinilai sulit bersaing dengan kandidat lainnya.
Abdul Wahid mengaku sempat menolak maju dalam Pilkada Riau karena tidak ingin mengejar jabatan. Namun, sejumlah tokoh Riau, di antaranya mantan Gubernur Riau Rusli Zainal, mantan Bupati Siak Arwin, dan Ustaz Abdul Somad (UAS), memintanya maju untuk memimpin Riau.
“Saya tidak punya keinginan. Tapi mereka meminta saya ikut memperbaiki Riau. Saya pun istikharah terlebih dahulu,” ujarnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa istrinya sempat tidak menyetujui pencalonannya. Meski demikian, ia akhirnya bersedia maju karena menghormati permintaan para tokoh tersebut, khususnya Ustaz Abdul Somad.

Selain itu, Abdul Wahid menegaskan tidak pernah melobi partai politik maupun mengeluarkan uang untuk memperoleh dukungan pencalonan.
“Saya tidak pernah mengurus partai, tidak pernah lobi ke sana kemari. Saya langsung diberi rekomendasi oleh Pak Surya Paloh dari NasDem, kemudian PKB juga memberikan dukungan. Saya tidak pernah mengeluarkan uang sepeser pun,” katanya.
Dalam perkara ini, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mendakwa Abdul Wahid bersama Kepala Dinas PUPRPKPP Riau Muhammad Arief Setiawan, Tenaga Ahli Gubernur Dani M. Nursalam, dan ajudan Marjani melakukan dugaan pemerasan terhadap sejumlah pejabat di lingkungan Dinas PUPRPKPP Provinsi Riau.
Jaksa Penuntut Umum (JPU) menyebut para terdakwa diduga meminta setoran dari kepala UPT dengan besaran yang meningkat dari 2,5 persen menjadi 5 persen dari nilai pekerjaan. Dana yang terkumpul disebut mencapai sekitar Rp3,55 miliar dan diduga digunakan untuk berbagai kepentingan di luar kedinasan.

Abdul Wahid membantah seluruh dakwaan tersebut. Ia menegaskan tidak pernah meminta maupun menerima uang dari siapa pun serta menilai perkara yang menjeratnya merupakan bentuk pembunuhan karakter. (red-mys)












